Tema tahun baru kali ini adalah menulis. Mulai dari tulisan yang panjangnya satu-dua paragraf, ke satu-dua lembar, belasan halaman hingga yang hitungannya puluhan (semoga ga sampai ratusan). Yosh, barusan submit tulisan yang pendek tapi butuh pengorbanan waktu yang lama buat nyeleseinnya, sekarang lanjut ke tulisan yang lain. Ganbaranaitoikenainee…
Tiba-tiba gatel pengen nulis begini. Kadang geregetan pengen komen nyolot, kalau misalnya ada yang komen yang …. hm, indescribable. Let me put this way.
Contoh #1: soal tesis
A: Eh lo udah nulis berapa halaman? Lo mah enak masih single. Bisa konsen nulis. Gw baru mau nulis, mesti nunggu anak gw tidur dulu, kalau ga digangguin mulu.
(dalam hati: Siapa suruh lo beranak kalau tau enakan single? !”$%&)
Contoh #2: soal abis lulus mau ke mana
A: Eh jadinya abis lulus mau lanjut ke mana? Lo mah masih enak bisa milih ke mana aja lo yang suka. Gw mesti harus mikirin keluarga, anak-anak kalau misalnya gw mau kemana.
(dalam hati: Siapa suruh lo kawin kalau tau ribet mikirin keluarga? !”$%&)
Atau juga contoh yang agak beda
A: Eh ajarin gw bla-bla-bla. Gw pengen nyerap ilmu dari lo. Ntar kita bisa barter. Gw bisa ngajarin lo cara nyari istri dan bla bla…
(dalam hati: speechless.. not sure if it was joke or what, but just …. errr stupid).
See my point here?
Beberapa waktu lalu dapat surat “invitasi” dari salah satu sekolah bisnis, yang dari namanya sih mestinya ternama (tet tooot.. mengulang kata “nama” 2x). Setengah ga percaya, setengah “choushi ni noru” (duh, awkward moment when you learned an expression in foreign language, but never know how to say it in your mother-tongue) saya browsing-browsing, ah kayaknya namanya aja yang sama karena banyak kan nama universitas yang merefer ke nama tempat. Sebut saja misalnya “Universitas Indonesia” kan ga sama dengan “Universitas -insert-something-here- Indonesia”.
Tapi hari ini pas ada yang bahas soal problem yang lagi happening sekarang (a.k.a setelah-ini-mau-apa-di mana-gimana) dan kebetulan orang yang nanya juga tipe yang intelektual dan kuwashii (= jago? expert?) soal pendidikan, saya langsung aja nyeletuk soal ini. Dibilangin: ah sama itu, itu cuman nama sekolah yang bagian dari si universitas itu tadi (too many abstract pointers, lol). “Udah kamu kalau gitu pindah ke jurusan ekonomi aja, ngapain kamu ngurusin robot ga jelas begitu (wkwk, sial dibilang ga jelas)”
Apa kata si sensei kalau tau-tau saya minta surat rekomendasi buat masuk sekolah bisnis. Tapi jangan salah, FYI, ilmu ekonomi itu juga lebih “sangar” applied math-nya dari engineering padahal. Banyak sekolah yang sengaja nyari lulusan yang math atau physics-related. For me? I hate math! haha
Reasoning di otak saya agak lambat. Sering misalnya dengerin orang ngomong fakta A, pas dengernya ga kepikiran apa-apa. Terus beberapa saat hima, mendadak kepikiran, ngerasa aneh sendiri, jika A maka B, jika B maka C dan seterusnya (biasanya over-conclusion juga sih).
Nantoka kangaesugiru.
… terkait perandaian, seandainya saya anak jurusan sosial, merasa ada beberapa topik riset yang pengen saya teliti. Misalnya, anggap saya anak linguistik, saya tertarik pengen tahu hubungan bahasa ibu dengan kognitif seseorang. Maksudnya begini, bahasa itu kan media untuk menyampaikan informasi, fasilitas yang memberikan bentuk terhadap isi pikiran. Tapi bahasa sendiri mempunyai konstrain struktur yang berbeda untuk tiap bahasanya. Misal, dalam bahasa Inggris struktur kalimatnya S + V + O, sementara bahasa Jepang, S + O + V. Nah ini kan sedikit banyaknya membentuk pola seseorang menyampaikan idenya dalam urutan yang bagaimana. Walaupun dalam waktu yang relatif singkat dan ga disadari, misalnya kalau seseorang bicara dalam bahasa Jepang dia mesti tahu dulu “siapa” dan “apa” yang dibicarakannya sebelum dia berpikir tentang “apa yang terjadi” di antara siapa dan apa tersebut. Sementara dalam bahasa Inggris, seseorang lebih mementingkan “siapa” dan “apa yang terjadi” dibandingkan dengan “apa”-nya sendiri. Presedensi seperti ini pasti membentuk pola pikir yang berpengaruh ke kognitif kan?
Dan dari sana sepertinya panjang kaitannya, entah dengan isu komunikasi, kultur, atau domain-specific: bidang X apa aja yang cocok untuk seseorang yang bahasa ibunya Y, kalau bahasa ibunya X untuk meningkatkan fungsi otaknya sebaiknya belajar bahasa sekondari Y apa, atau juga buat orang yang married-minded bisa juga rekomendasi untuk orang yang bahasa ibunya X sebaiknya menikah dengan orang yang bahasa ibunya Y dan pengaruhnya terhadap kecerdasan keturunan…
#Mulai ngawur…
Oh iya, terus kalau misalnya saya orang sosial-komunikasi / mass-media bisa juga meneliti soal “latah” di media komunikasi, sebut saja di jejaring sosial. Seriusan kadang saya pengen dapat update feed yang macam-macam dari FB, tapi yang ada kalau misalnya lagi ada apa, semua orang ngomonginnya itu doang (salju, bola, tanggal “cantik”, bayi??? dll… well, not that I do not love them, I just hate mainstreaming). Eh tapi jangan-jangan riset soal beginian udah mainstream juga?
Mumpung lagi happening…
Kalau dulu (kesannya udah lama amat), saya pengen bikin judul tesis (a.k.a skripsi) sepanjang mungkin, karena kayaknya keren aja pas wisuda dibacain ga selese-selese (MC-nya keknya harus narik nafas berapa kali waktu itu).
Ini: “Penanganan jaringan komunikasi multihop terkonfigurasi sendiri pada kasus dua atau banyak sumber dengan menggunakan koloni robot otonom terdistribusi berdasarkan prinsip kecerdasan kolektif serta pengembangan simulator NAML”
Lalu ternyata pada berapa kesempatan setelahnya, saya merasa menyesal karena mesti nulis itu judul di beberapa form, misalnya saja pas aplikasi beasiswa. Maka sekarang memutuskan untuk membuat judul yang sesimpel mungkin.
Kemarin (ga persis kemarin juga sih), pas minta inkan (a.k.a stempel / tanda tangan) dari sensei, dibilangnya judul begitu masih terlalu luas, terlalu ambigu, disuruh masukin keyword-keyword semacam domain, metodologi dan bla bla.. Jadilah akhirnya judul tesis saya (yang formnya baru aja disubmit) jadi panjang-panjang juga.
Ini: 人工免疫ネットワークを用いたDNAストランドディスプレースメントロボットの確率的な意思決定モデルの設計及びシミュレーション
(terjemahannya: Design and Simulation of Stochastic Decision Making Model of the DNA Strand Displacement Robot by Artificial Immune System)
Bandingkan dengan judul yang pertama saya propose: DNAによるロボットの情報的な設計 (Computational Design of DNA-based Robot)
Sigh -_-“